Studying Overseas, Another New Human Mind has been Infected

Pagi ini aku ngebaca koran kompas. Di kumpulan halaman advertising aku nemuin nama Universitas-ku terpampang didalamnya di kolom pameran pendidikan Australia. Banyak banget rasanya warga negara ini berkesempatan tuk ngelanjutin studi mereka di luar negeri. Tercatat emang ga sedikit mereka pergi ke beberapa negara seperti Amerika, Australia, Perancis, Jerman, Kanada dan negara-negara lainnya.

Menunduk sesaat, aku berfikir, apakah yang aku rasa sama dengan yang mereka rasa?

Aku nulis ini sebagai salah satu mahasiswa Indonesia yang engga sengaja berkesempatan untuk berangkat melanjutkan studi di Australia di jangka waktu yang hanya 1½ tahun lamanya. Mungkin ga cukup lama untuk sebuah tulisan berbobot dengan pengalaman yang se-sebentar ini. Aku juga sadar kalo tulisanku ga bakalan se-berat tulisan mereka pemerhati sosial maupun psikolog kemasyarakatan atau hal yang berdekatan dengan itu, karna emang i’m not an expert on it. Mungkin ada baiknya aku ngebatasin tulisan ini untuk dikonsumsi oleh mereka yang rentang usianya ga jauh beda dengan aku. Jadi… kalo aku masih 17 taun, yang berhak baca sekitar 15 sampe 19 gituw deh… cieeeee boong bener ngaku-ngaku masih 17 hahaha.

It starts here. Bandara yang pertama kali aku pijak untuk melanjutkan studi pertama kalinya yakni Sydney International Airport, yakni saksi malu-malu-in untuk dikenang gimana pertama kalinya aku berangkat dengan keluguan ngebawa 2 tas tangan sambil kesusahan narik koper dijemput kakak-kakak-ku di sana. Di saat itu aku membawa sejuta harapanku penuh untuk studi.

Aku bangga banget Indonesia-ku di luar sana saat bertemu dengan komunitas Indonesia yang mungkin sebagian udah lumutan ga pulang-pulang dengan ngebawa new stream seperti vocab baru Jakarta, Indonesian Lifestyle, latest Indonesian CDs atau sejenis begitu lah.

Awal-awal bahagia banget tentunya, look and see different places out there. Understanding new cultures, new behaviors, new taste dan segala hal-hal baru, yang kemudian aku rasain kalo studying overseas is much different than having vacation. Ada benernya juga, mungkin karna studying abroad itu jelas lebih lama tinggal disana ketimbang liburan yang lebih cenderung sebentar tuk bersenang-senang. Aku sedikit banyak menjadi lebih dinamis di hal yang baru aku temui. Herannya aku ga pernah ngerasa homesick, aku hanya ngerasa kesepian, mungkin karna aku blum punya aktifitas tetap dan blum punya banyak temen. Bisa juga karna background ku mendukung yang cenderung udah sering banget idup pindah-pindah lingkungan.

Sesebentar aku di sana, aku sadar kalo the way i live harusnya berbeda ketimbang sebelumnya aku di Jakarta. Aku kudu beli microwave, komputer dan ini itu untuk hidup. Mulai mikir juga soal bill listrik, bill telfun, beli buku bill gates dan bill lainnya. Mikir mana yang bisa di-share dan mana yang kudu dimilikin sendirian seperti kulkas, televisi dan blablabla-nya. Kayanya sounds simple, tapi susah juga untuk orang kaya aku. Another parts of mine change.

Aku tinggal ditempat layak, aku pernah tinggal di sebuah rumah kecil di braeside avenue, aku pernah tinggal di unit milik kampus graduate house, aku pernah tinggal di unit komunitas Indonesia college place dan aku juga pernah tinggal di eastlakes bareng kakak-kakak-ku. Kesemuanya menciptakan seorang aku yang memakan sejumlah pengalaman yang dapat aku petik bersama sejumlah student dan keluarga lainnya di sana.

“No matter the subjects are, it depends on the way how you concentrate your interrest. Why don’t you just spend your time a lil bit more in studying, than the time you spent rite now chosing these all subjects which have the same 6 credit points each”.

Yah, begitulah aku yang awalnya begitu sombong ngadepin Master of Computer Science course di University of Wollongong – Australia. Sikap optimistik yang begitu berlebihan saat aku diskusi bareng Rayden, anak Hong Kong yang telah lama tinggal di sana bersama sejumlah student lainnya saat enrollment Autumn 2000.

Memandang kebelakang di masa itu, aku jadi malu sendiri. Aku yang dulu begitu sok kuat banget ngadepin pendidikan, sempet juga tak berdaya dimakan waktu. Di sini aku berubah banyak untuk mengerti bahwa learning process dalam kuliahku kini aku rasa berat.

Pendidikan yang aku jalanin menurutku susah banget. Aku paham kalo kemampuanku dalam penyelesaian masalah engga lah begitu baik saat itu. Keliatan banget dari aku yang binun dengan time management, programming di lab, cari material, ngerjain assignment, writing reports dan segala blablabla akademik yang kudu diselesein tepat waktu. Waktu makan dan tidurku ga teratur, kadang tidur panjang, kadang ga tidur sama sekali sampai 56 jam. Kadang makan enak, kadang juga juga cuman makan nasi pake goreng telur dadar. Cuman karna kudu nguber-nguber ngumpulin tugas.

Kok keliatannya sibuk banget ya? Tapi perasaan engga juga ah. Aku masih aja bisa nyisihin sedikit waktu untuk belajar hal-hal baru seperti web streaming, web programming, web design dan banyak lagi. Engga hanya soal academic knowledge, aku juga masih bisa punya waktu untuk belanja, nonton, refreshing, ke pantai, foto-foto, ngobrol, bbq-an, telfun-telfun-an, ngafe, ceting, ke luar kota dan aktifitas lainnya. Aku bukan lah seorang static student.

Kuliahku juga ga mulus-mulus banget. Sebagai mahasiswa aku juga pernah ngalamin kegagalan saat ngambil mata kuliah Advanced Topics of Database Management. Paling engga ini adalah bukti bahwa aku juga pernah lalai dalam menjalankan studi. Saat itu aku emang stress, pusing, bahkan aku tangis-in kegagalan itu. Cengeng banget ya? Aku sadarin bahwa kegagalanku itu ga seimbang dengan waktu, jerih payah bahkan uang orangtua yang aku pakai untuk ngebiayain mata kuliah tersebut. Ya sudah, what ever will be, will be-lah. Apa pun yang terjadi-terjadi-lah. Apa boleh buat, aku harus lulus di major yang tetep aku ambil meski sempet ragu juga pengen ganti jurusan.

Di sini aku membenarkan artikel yang pernah aku baca di IndoCampus, bahwa harddisk komputerku penuh dengan mp3 Indonesia, aku juga sering baca detik.com dan kompas.com, aku rantangan makanan Indonesia, aku beli abon cap sapi dan kecap ABC untuk sahur saat puasa juga buatan Indonesia dan hal-hal lain yang berkaitan dengan itu. Here i’m trying to explain, kalo aku tetaplah seorang anak Indonesia. Aku juga nyempetin sedikit waktu untuk tau gimana keadaan Indonesia-ku, dan kadang berkomentar walau kadang plus, kadang minus, bukan untuk menjadi seorang komentator handal, kalo itu pun di kita juga udah punya banyak.

Aku ga gitu ngikutin politik. Aku lebih prefer ngobrolin kenapa teknologi informasi Indonesia kadang terlambat dengan luar negeri sementara internet sebagai bridging teknologi lintas informasi telah ada? Bareng secangkir kopi aku ngobrol bareng temen sambil makan kebab selalu hingga larut pagi.

Soal identitas bangsa, aku coba kutip pembicaraan dengan temenku beberapa waktu lalu, “Wan, gue bangga dengan Indonesia sebagai negaraku dan gue bangga banget dengan Jogja sebagai tanah kelahiranku meski status gue adalah american citizenship. Awalnya gue berpikiran kalo one day gue bakalan nabung dolar dan pulang ke Jogja buat bangun rumah serta ngabisin hari tua gue di sana. Kenyataannya gue sekarang mutusin untuk ke Indonesia hanya liburan yang hanya 1 sampe 4 minggu aja, mungkin karena Indonesia yang gue temuin sekarang berbeda. Tapi gue ga bakalan cape nerangin ke orang-orang sini, sebenernya gimana Indonesia gue di mata mereka, gue bakalan terus terangin kalo Indonesia itu ga sejelek yang mereka kira…”, banyak lagi blablabla selanjutnya setelah ini.

Kenapa aku kutip ini? Aku akuin aku hidup enak di sana, aku hidup berkecukupan, aku merasa safe meski di negeri orang, aku tinggal di lingkungan yang bersih, ga berisik, aku ber-privacy, masih banyak orang ramah meski aku pernah jadi korban rasis, orang saling percaya, servis telekomunikasi terhitung baik meski kadang sucks. Overall aku suka tinggal di sana. Cara-ku berfikir untuk tinggal hidup menetap sedikit banyak berubah.

Mungkin karena negara Australia lebih baik dari Indonesia in some segments, itu sebabnya aku betah tinggal di sana. Tapi masih banyak juga ko negara yang lebih baik dari Indonesia dan Australia. Bersukurlah kalian yang tinggal di sana untuk melanjutkan studi maupun tinggal menetap.

Bahagia banget, akhirnya aku dapat menyelesaikan program studiku setelah melewati masa sulit di saat aku harus mengambil mata kuliah Design & Analysis Algorithm, sementara aku sejujurnya ga begitu kuat di matematika. Ngutip kalimat Bayu soal struggling di pendidikan, “Jalan untuk lulus jelas ga gampang lah Wan, mungkin elo kudu ngelawan batin elo untuk bisa ngelewatin matematik yang elo bilang ga bisa, seperti halnya gue yang mau ga mau kudu ngadepin subject Finance sementara gue ga punya skill untuk itu.”

Iyah, sebuah graduation sederhana sekitar bulan Juli dengan pemandangan yang ga berbeda saat aku menghadiri acara wisuda temen-temenku sebelumnya. Kali ini yang tampak berbeda mungkin karna aku kali ini dilibatkan dalam ceremonial itu.

Sebelum acara dimulai, kami diperkenankan untuk mengambil sejumlah foto berhubung acara graduation bermula sore. Aku hanya selalu sedih bahkan berkaca-kaca saat aku slalu ucapin, “pakean ini berat ya?”. Aku hingga sekarang masih belum percaya seorang se-kecil aku dapat menyelesaikan studi di masa aku putus asa, di mana aku telah merasa terjatuh dan berjalan terseret-seret menghadapi assignment dan exam yang begitu berat. Kebahagianku begitu sederhana, aku bisa menyelesaikan 1 tanggungjawab besarku.

Setelah menghabiskan beberapa waktu kemudian dan beberapa fase setelahnya. Visa Student ku habis dan aku pulang ke Jakarta. Entah kenapa, aku ga pernah ngerasa weird dengan kepulanganku ini.

“Persis 1½ tahun yang lalu aku berdiri di arrival sini untuk datang, dan kini aku berdiri lagi di sini untuk pulang dengan sebuah tanggung jawab yang telah aku selesaikan. Aku pasti kan kembali lagi ke sini…”. Aku merasakan bahwa aku yang pulang kini sedikit banyak telah berubah dari aku yang datang 1½ taun yang lalu.

Habis dari sini… Let’s take a look at another side after…
Aku mulai bijak melihat Indonesia-ku dari luar.
Aku sungguh bersukur dapat melanjutkan studi di luar sana.
Aku berkesempatan untuk melihat sisi dunia selain Indonesia.
Aku banyak mendapat pengalaman baru.
Aku ngedapetin temen yang lebih dewasa dan mengerti.
Banyak lagi aku-aku-aku dan aku positif lainnya, sungguh aku berterima kasih pada Tuhan dan keluarga yang mempercayai itu semua padaku.

Didepan komputer ini aku menulis, ngeliat kalender yang kini ada disampingku, tidak terasa sudah ±5 bulan lamanya aku ga lagi di Australia.

Aku temuin tingkat pendidikan yang aku ambil kadang have no meaning.
Aku dehidrasi banget saat datang ke sini.
Aku geleng-geleng dengan polusi Jakarta.
Aku sering berantem karna beda pendapat.
Aku dikatain kudu ngeliat realita.
Aku kehilangan privacy.
Yup, aku temuin banyak minus-minus lainnya seiring dengan plus-plus lainnya yang aku sebutkan sebelumnya. Sampai di sini aku rasa wajar aja, when there’s a plus, there should be a minus.

Di saat sendiri maupun dinner bareng keluarga, aku selalu bertanya-tanya, apakah aku harus melawan arus? Tetap berdiri di sini? Atau ikut arus? Berhubung aku nyadarin kalo stream yang aku bawa jelaslah sedikit banyak berbeda dengan atmosfir di sini. Perang batin ini sungguh sering terjadi.

Beberapa waktu lalu, aku ketemuan dengan anak-anak yang dulu tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) University of Wollongong, kami bertemu di salah Cafe di Plaza Senayan. Aku nemuin beberapa hal yang tetap sama dan beberapa hal yang telah berbeda, and it’s normal. Kadang aku berfikir juga, apakah yang aku rasain ini mereka rasain juga? Aku yang re-shockculture, padahal aku kembali ke Indonesia ku? Apakah aku hanya ketinggalan beberapa fase berkehidupan di Jakarta? Banyak lagi pertanyaan-pertanyaan kecil dalam hati yang sebenernya terjawab, namun entah kenapa sering banget ditanyain lagi.

Aku tersenyum dan geleng-geleng kecil.
Arus deras kenyataan yang dihadapi kini jelaslah ga sama dengan yang aku hadepin dulu.
Dari statuspun telah jelas, kalo aku dulu seorang student dan kini sudah bukan.
Jenis tanggungjawab juga sudah berbeda.
Lingkunganku bertempat tinggal juga jelas beda banget.
Banyak hal berbeda yang kini menurutku lebih tepat untuk di jalanin, bukan untuk sekedar dipikirin. Meski aku juga tau kalo idup ini kudu dijalanin dengan pikiran.

Mungkin ada baiknya aku kan tetap berdiri di sini. Tidak melawan dan tidak ikut arus. Mempertahankan sedikit idealisme untuk sesuatu yang menurutku baik lagi benar sepertinya ga susah-susah amat. Kalo aku dulu bisa tetep berdiri stabil saat shockculture pertama kali aku datang ke sana, kenapa skarang harus ga bisa? Sementara aku kembali ke tanah dan negeriku sendiri. Kalo aku dulu bisa mencamkan surfing in diversity, kenapa sekarang ga?

Diakhir tulisan ini.
Aku sadar bahwa aku telah terinfeksi (demikian aku menyebutnya) dengan sejumlah hal-hal baru positif dan negatif yang mungkin ga sinkron disaat yang sesebentar itu aku melanjutkan studiku di luar negeri. Semoga aja aku bisa terus ngebawa diri ke arah yang lebih positif. Jika ada sesuatu hal positif yang bisa dibawa, kenapa harus ditanggalkan percuma? WDY.


About this entry